Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh..
Saudaraku, semua jamaah - jamaah kaum muslimin, baik itu dari Salafy, Ikhwanul Muslimin, Jamaah tabligh, muhammadiyah, Nahdatul Ulama, dan lain lain..
Tahukan anda tentang virus yang bernama Ash-shobiyah?
Jangan-jangan diri kita pribadi tidak tahu kalau kita sendiri telah terserang virus tersebut. Sehingga kita merasa bahwa kita masih mengikuti jalan yang ditempul Rasulullah s.a.w dan para sahabat radiAllahu 'anhum ajma'iin, padahal kita secara tidak sadar telah menyimpang dari apa yang dilakukan beliau.
Untuk mendiagnosa penyakit tsb, izinkan saya mengajukan pertanyaan berikut untuk direnungkan:
Pertanyaan :
1. Apakah orang yang mengerjakan semua rukun islam sesuai tuntunan rasulullah yakni :
(1) mengucapkan dan meyakini dengan sepenuh hari bahwa tiada Rabb selain
Allah dan muhammad saw adalah rasulullah
(2) mendirikan Sholat 5 waktu sehari semalam
(3) Menunaikan Zakat
(4) Mengerjakan shaum di bulan Ramadhan
(5) menunaikan ibadah haji ke baitullah
Tanpa memandang dari jamaah kaum muslimin manapun baik itu dari salafy, jamaah tabligh, ikhwanul muslimin, Muhammadiyah, NU, persis, dll maka apakah orang itu adalah layak disebut sebagai orang Muslim?
2.Berdasarkan jawaban pertanyaan pertama, jika jawabannya adalah "YA, orang itu adalah Muslim", Maka, tanpa memperdulikan dari golongan manapun, Apakah Hak seorang Muslim terhadap musim lainnya berdasarkan pesan rasululah?
3.Bagaimana hukumnya melecehkan kehormatan seorang muslim, baik itu sesama golongan, maupun dari golongan yang lain?
4. Mari kita renungkan dua buah kisah berikut, a.l:
Kisah (1) Suatu kali seorang sahabat utama, pemimpin para Fuqaha, pemimpinnya
para ulama (Muadz bin Jabal r.a) melakukan kekeliruan, Beliau sewaktu mengimami sholat, membaca ayat yang panjang (albaqarah), maka ada seseorang yg memperpendek sholat. dan Beliau r.a memvonis orang tsb "munafik". Keika berita ini disampaikan kepada rasulullah s.a.w, rasulullah sangat marah kepada Muadz bin jabal, beliau bersabda: Wahai Mu'adz, apa kau ini tukang fitnah! , apa kau ini tukang fitnah! , apa kau ini tukang fitnah! . Bacalah (dalam shalatmu) surat "Wasy Syamsi Wadhuha-ha" dan surat "Sabbihisma Rabikal A'la" atau yang semisalnya."..
[sanad lengkap ttg hadits ini, lihat referensi dibawah...]
Kisah (2) Pada waktu peperangan sedeng berkecamuk di medan Jihad, ada seorang sahabat (Usamah bin Zaid r.a) yang berhasil mendesak orang kafir. sewaktu sahabat tadi tinggal menebas leher musuhnya, Orang kafir tadi bersyahadat. Karena sahabat tadi merasa ini adalah akal-akalan orang kafir itu biar tidak dibunuh, maka sahabat tadi tetap membunuh orang tersebut. Ketika berita ini terdengar oleh rasulullah, beliau s.a.w sangat marah dan bersabda "Wahai Usamah, apakah engkau membunuhnya setelah dia mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah?"
[sanad lengkap ttg hadits ini, lihat referensi dibawah...]
Berdasarkan dua kisah di atas, pertanyaannya:
4a. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para ulama, Ulama manakah yang derajatnya lebih utama disisi Allah, apakah pemimpinnya para ulama (Muadz bin jabal r.a), ataukah ulama-ulama lain, termasuk ulama - ulama pada masa kita saat ini?
4b. Muaz bin jabbal r.a, yang termasuk sahabat utama saja bisa saja berbuat kekeliruan,
yaitu dengan menuduh / memvonis / memberi gelar seseorang sebagai munafik. Maka apakah mungkin ulama - ulama selain beliau, baik ulama-ulama masa lalu sampai ulama-ulama kita saat ini, ustadz2 kita melakukan kekeliruan yang sama?
4c. Dari hadits di atas, Apa tindakan yang diambil oleh rasulullah saw ketika mengetahui Muadz r.a menuduh seorang muslim sebagai orang munafik?
4D. Jika kita mau mencontoh Rasulullah, bagaimana seharusnya tindakan kita ketika mendengar seorang muslim (siapapun itu, baik sahabat kita, orang tua kita, bahkan guru-guru kita), yang menuduh saudara muslimnya yang lain (baik perorangan apalagi satu jamaah kaum muslimin) sebagai 'munafik' tanpa bukti-bukti atau tanpa tabayyun?
4e. Apakah tugas kita sebagai muslim itu menyampaikan nasehat rasulullah, ataukan tukang vonis, seperti memberi gelar, jamaah ini ahlul-bid'ah, dsb?
4f. Jika kita melihat seorang muslim melakukan bid'ah, kemudian kita beri nasehat. Akan tetapi nasehat kita di abaikan oleh Orang tersebut. Apa tindakan kita selanjutnya? apakah dengan cara melecehkan muslim tersebut dengan julukan 'Ahlul-bid'ah' atau julukan munafik, dsb.. Cara apa yang dicontohkan Rasulullah dalam hal ini? Ataukah dengan menyerahkan urusan tsb pada Allah.. karena tugas kita sebagai muslim hanya menyampaikan nasihat rasulullah, dan bukan tukang vonis.
5. Islam memiliki tingkatan-tingkatan, Tingkatan makakah yang paling utama didalam islam?
6. Apakah orang yang mengerjakan semua rukun iman sesuai tuntunan rasulullah yakni :
(1) Beriman kepada Allah Rabb semesta Alam
(2) Beriman kepada Malaikat-malaikat Nya
(3) Beriman kepada Kitab-kitab (Alqur'an) 30 Juz yang diturunkan Allah
kepada Muhammad s.a.w
(4) Beriman kepada rasul-rasul Allah
(5) Beriman keada hari Akhir (kiamat)
(5) Beriman keada Qada dan Qadar
Tanpa memandang dari golongan muslim manapun baik itu dari salafy, jamaah tabligh, ikhwanul muslimin , dll Adalah berhak disebut sebagai orang Mukmin?
7. seperti halnya ke-islaman, ke-imanan juga memiliki tingkatan-tingkatan, tingkatan iman manakah yang paling utama (sempurna)?
8. Cara berdakwah manakah yang dicontohkan rasulullah s.a.w:
Dakwah ilallahi bilhikmah kah ataukah dakwah yang tanpa basa basi kah?
9. Ukhuwwah manakah yang diajarkan rasulullah?
Ukhuwwah islamiyyah kah, ataukah ukhuwwah shobiyah?
----( )-----
Wahai saudaraku, Itulah beberapa pertanyaan yang insya Allah tidak sia-sia untuk direnungkan. Semoga beberapa pertanyaan tadi bisa memperjelas diamana posisi kita saat ini, dan tindakan apa yang pantas kita lakukan melihat kondisi ummat islam yang di-kotak-kotak-kan saat ini.
___________________
Jawaban no 1
" Umar ra. berkata: ketika kami tengah berada di majelis bersama Nabi SAW pada suatu hari, tiba-tiba tampak dihadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh dan tidak seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Lalu ia duduk di hadapan Nabi SAW dan menyandarkan lututnya pada lutut Nabi SAW dan meletakkan tangannya diatas paha Nabi SAW, selanjutnya ia berkata,"Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam" Nabi SAW menjawab,"Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Alloh dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Alloh, engkau mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Romadhon dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya." Orang itu berkata, "Engkau benar," kami pun heran, ia bertanya lalu membenarkannya Orang itu berkata lagi,"Beritahukan kepadaku tentang Iman" Nabi SAW menjawab,"Engkau beriman kepada Alloh, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk" Orang tadi berkata, "Engkau benar" Orang itu berkata lagi, "Beritahukan kepadaku tentang Ihsan" Nabi SAW menjawab,"Engkau beribadah kepada Alloh seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Dia pasti melihatmu." Orang itu berkata lagi,"Beritahukan kepadaku tentang kiamat" Nabi SAW menjawab," Orang yang ditanya itu tidak lebih tahu dari yang bertanya." selanjutnya orang itu berkata lagi,"beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya" Nabi SAW menjawab," Jika hamba perempuan telah melahirkan tuan puterinya, jika engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berbaju, miskin dan penggembala kambing, berlomba-lomba mendirikan bangunan." Kemudian pergilah ia, aku tetap tinggal beberapa lama kemudian Nabi SAW berkata kepadaku, "Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya itu?" Saya menjawab," Alloh dan Rosul-Nya lebih mengetahui" Nabi SAW berkata," Ia adalah Jibril, dia datang untuk mengajarkan kepadamu tentang agama kepadamu" (Hadis riwayat Muslim, kitab al-iman, no: 9 dan 10, al-Tirmizi, kitab al-iman, no:2535, beliau berkata: hadis ini hasan shahih, al-Nasaa'ie, kitab al-iman, no: 4904, 4905, Abu Dawud, kitab al-sunnah,no:4075, Ibn Majah, kitab al-muqaddimah, no: 62 dan 63, Ahmad, no: 346).
Jawaban no 2
" Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima, menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, memenuhi undangan dan menjawab orang bersin (HR. al Bukhari dan Muslim)
Jawaban no 3
" "Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri), dan riba yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya". (As-Silsilah As-Shahihah, 1871)
" "Barangsiapa menolak (ghibah atas) kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat Allah akan menolak menghindarkan api Neraka dari wajahnya". (Hadits Riwayat Ahmad, 6/450, hahihul Jami'. 6238)
Jawaban no 4
" Dikisahkan dari Jabir Radiyallahu 'anhu bahwa Mu'adz bin Jabal shalat Isya bersama Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam. Setelah itu ia pulang ke kaumnya dan mengimami sholat di sana. Ia pada rakaat pertama membaca surat al-Baqarah. Kemudian seseorang keluar dari shalat tersebut dan melanjutkan shalat sendirian. Orang-orangpun berkata: "Engkau munafik"? Ia menjawab: "Tidak! Demi Allah, aku akan adukan kepada Rasulullah." Mereka datang dan mengadukannya kepada Nabi. Berkata si pemuda: "Ya Rasulullah, kami adalah orang yang bekerja seharian, sesungguhnya Mu'adz shalat isya bersama engkau, setelah itu ia mengimami kami dan membaca surat al-Baqarah -padahal kami membutuhkan waktu istirahat". Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam kemudian berpaling kepada Mu'adz seraya berkata:Ya Mu'adz, apakah kamu mau jadi tukang fitnah?! apakah kamu mau jadi tukang fitnah?! apakah kamu mau jadi tukang fitnah?! (Jika engkau mengimami) bacalah (dalam shalatmu) surat "Wasy Syamsi Wadhuha-ha" dan surat "Sabbihisma Rabikal A'la" atau yang semisalnya.! (HR Bukhari dan Muslim)
" Usamah bin Zaid Radhiyallahu 'anhu berkata : "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus kami (menghadapi) Bani Huraqah, maka kami datang (menyerang) kaum tersebut pagi hari. Kamipun berhasil mengalahkan mereka. Saya dan seorang Anshar menyusul (mengejar) seorang diantara mereka. Tatkala kami telah berhasil mencapainya, ia berucap : "Laa Ilaaha Illallaah". Temanku orang Anshar menahan dirinya (dari membunuhnya), sementara aku menikamkan tombakku sehingga orang itu terbunuh olehku. Ketika kami datang (ke Madinah) berita itu sampai kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam maka beliau bersabda : "Wahai Usamah, apakah engkau membunuhnya setelah dia mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah?" Aku menjawab. "Orang itu hanya mencari perlindungan saja" (pura-pura mengucapkan kalimat tauhid). Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam terus mengulangi pertanyaan tadi sehingga aku berangan-angan sekiranya aku belum masuk Islam kecuali pada hari itu" [Hadits Riwayat Bukhari 4269, 6872, dan Muslim 273,274 dan ini lafadz Bukhari]
" Abu Hurairah Radhiallahu 'Anhu: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda "Aku diperintah memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan Laa ilaaha illallah. Barangsiapa yang telah mengucapkan Laa ilaaha illallah berarti selamat dariku harta dan jiwanya kecuali hak keduanya. Dan adapun perhitungannya (diserahkan) kepada Allah Azza wa Jalla."
Jawaban no 5
" Abu Musa r.a. berkata, "Mereka (para sahabat) bertanya, Wahai Rasulullah, Islam manakah yang lebih utama?' Beliau menjawab, 'Orang yang orang-orang muslim lainnya selamat dari lidah dan tangannya..."'
Jawaban no 6
Sama dengan jawaban no 1
Jawaban no 7
" Anas r.a.: Bersabda Nabi SAW, "Tiada sempurna iman salah seorang dari kamu sehingga ia mencintai sesama Muslim, sebagaimana ia telah mencintai dirinya sendiri."
" An-Nu'man bin Basyir ra. berkata: Bersabda Rasulullah SAW, "Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam cinta mencintai, kasih mengasihi dan rahmat merahmati adalah bagaikan satu badan, apabila salah satu anggota badannya menderita sakit, maka menjalarlah penderitaan itu ke seluruh badan, hingga terasa panas dan tidak dapat tidur."
" Rasulullah SAW bersabda, Ada tiga hal yang siapa saja di dalamnya tentu akan merasakan lezatnya iman: apabila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada yang lain, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan benci kepada kekafiran laksana ia benci untuk dicampakkan kepada neraka. (H.R. Bukhari).
Labels: Renungan